27 May 2008

Business @ The Speed of Thought


Business at The Speed of Thought: Succeeding in the Digital Economy bukanlah buku baru -- hampir 10 tahun sudah berlalu sejak buku ini diterbitkan. Mengapa buku ini saya bahas di sini? Alasannya adalah karena menurut saya buku ini cukup menarik untuk disimak.

Berangkat dari pengamatan bahwa laju perubahan di dunia bisnis berkembang makin cepat sejalan dengan perkembangan teknologi, Bill Gates mengajukan argumen bahwa perusahaan-perusahaan yang ingin tetap kompetitif perlu menggunakan teknologi informasi untuk membangun "sistem syaraf digital" (digital nervous system) yang memungkinkan informasi mengalir secara bebas dan pada gilirannya membuat perusahaan semakin responsif. Buku ini kemudian membahas 12 langkah yang dianggap penting untuk mewujudkan ide tersebut, yang dikelompokkan ke dalam tiga kategori: manajemen pengetahuan (knowledge management), operasi bisnis, dan perdagangan (commerce).

Sesuai sasaran pembacanya, buku ini tidak berisi banyak informasi teknis. Di bagian awal buku ini Bill Gates bahkan terkesan lebih menekankan aspek "informasi" daripada aspek "teknologi". Ia antara lain sempat menyinggung buku My Years with General Motors karya Alfred P. Sloan Jr. (pemimpin GM di awal abad 20) dan secara sangat singkat menceritakan beberapa teknik Sloan dalam mengumpulkan dan memanfaatkan informasi – usaha yang pada dasarnya serupa dengan membentuk semacam "extranet" manual antara GM, para pemasok GM, dan para dealer GM. Ini kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai sistem yang digunakan GM saat Business at The Speed of Thought diterbitkan.

Sepanjang buku ini, terdapat cukup banyak contoh kasus penggunaan teknologi informasi dari berbagai organisasi di bermacam-macam industri, mulai dari Merrill Lynch, Dell, Marriott, Marks & Spencer, Boeing, hingga angkatan udara Amerika Serikat. Juga dibahas bagaimana Microsoft sendiri memanfaatkan teknologi informasi untuk berbagai keperluan internal. Secara pribadi, mengingat situasi tahun 1990an, saya berpendapat bahwa ketersediaan contoh-contoh kongkrit ini adalah salah satu aspek yang paling penting dari buku ini. Dengan membaca contoh-contoh yang diberikan, saya rasa seorang pemimpin bisnis tahun 90-an yang sebelumnya mungkin masih gagap teknologi akan mendapat sedikit inspirasi tentang bagaimana teknologi informasi dapat membantu berbagai proses di perusahaannya.

Akhir kata, pemikiran-pemikiran yang termuat dalam buku ini sebenarnya tidaklah baru bahkan untuk ukuran akhir 1990an. Cabang ilmu manajemen pengetahuan, misalnya, telah diakui sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri sejak 1995, dan beberapa aplikasi yang disinggung dalam contoh-contoh di buku ini telah digunakan oleh perusahaan-perusahaan pemiliknya lama sebelum buku ini terbit. Berbagai teknologi yang "dipromosikan" buku ini, seperti e-mail, juga saat itu pun sudah bukan barang baru lagi. Dalam pandangan saya, nilai buku ini lebih kepada perannya (yang didukung oleh ketenaran Bill Gatessebagai pengusaha) dalam memberitahu masyarakat awam, khususnya kalangan pengusaha, tentang pemikiran-pemikiran dan teknologi-teknologi tersebut serta manfaat potensial mereka.

20 May 2008

Crashproof Your Life


Dengan judul lengkap Crashproof Your Life: A Comprehensive, Three-Part Plan for Protecting Yourself From Financial Disasters, buku ini menurut saya termasuk buku yang unik. Meskipun isi buku ini mencakup topik-topik keuangan pribadi, tapi buku ini tidak berfokus pada teknik berinvestasi atau menumbuhkan kekayaan Anda. Ditulis oleh seorang pengacara, buku ini justru berfokus pada teknik melindungi diri Anda dari "bencana" finansial maupun “bencana” dalam karir.

Di bagian awal buku ini, si penulis, Thomas A. Schweich, memberikan beberapa skenario di mana sebuah crash dapat terjadi tanpa diduga. Beberapa dari contoh-contoh yang ia berikan:

  • Seorang bapak didiagnosis menderita Alzheimer di usia 57 tahun. Sayangnya, polis asuransinya memiliki batasan usia, dan tidak mencakup nursing-home care. Pada saat yang bersangkutan meninggal, keluarganya telah menghabiskan US$ 1.5 juta dari kantong mereka sendiri untuk biaya perawatan, dan nyaris tidak memiliki apa-apa lagi.

  • Seorang engineering executive berprestasi berusia 30 tahun di suatu perusahaan besar tiba-tiba menemukan bahwa perusahaannya telah memutuskan untuk mengoutsource pengadaan barang-barang yang selama ini didesain oleh timnya. Secara mendadak, ia kehilangan pekerjaannya. Walaupun ia kemudian berhasil menemukan pekerjaan baru, pemasukannya berkurang 30 persen, dan ia harus mulai berjuang merintis karirnya lagi di tempat kerjanya yang baru.

  • Seorang eksekutif berprestasi di sebuah perusahaan minyak raksasa membaca sebuah joke berjudul "25 Reasons Why Beer Is Better than Women". Merasa bahwa lelucon itu sangat lucu, ia mengirimkan lelucon tersebut ke beberapa rekannya melalui email. Sebagian koleganya kemudian kembali mengirimkan lelucon tersebut ke karyawan-karyawan lain di perusahaan tersebut. Dalam waktu singkat, lelucon tersebut tersebar luas dalam sistem email internal perusahaan. Beberapa karyawati yang membaca lelucon tersebut merasa tersinggung oleh nada seksis dan vulgar lelucon tersebut, lalu mengirimkan complain pada manajemen perusahaan dan mengajukan tuntutan hukum. Perusahaan akhirnya terpaksa memberikan kompensasi sebesar US$2.2 juta dolar kepada karyawati-karyawati tersebut, dan karir si eksekutif pun tamat.

Berangkat dari penggambaran beberapa contoh skenario terjadinya crash dan konsekuensinya, Schweich kemudian membahas berbagai tips untuk melakukan crashproofing, yang ia kelompokkan ke dalam tiga bab:

  • Professional Crashproofing. Bab ini membahas hal-hal yang bisa menimbulkan risiko terjadinya crash dalam karir pembaca, dan teknik-teknik untuk mengurangi risiko tersebut. Beberapa contoh dari hal-hal yang dibahas adalah risiko akibat kebiasaan ngobrol dalam lift (yang mungkin berakibat bocornya rahasia perusahaan ke orang-orang yang kebetulan berada di lift yang sama), office romance, aspek-aspek politik kantor, dan manajemen arsip perusahaan untuk menghindari masalah bila suatu saat perusahaan terlibat sengketa dan memerlukan bukti pendukung.

  • Financial Crashproofing. Bab ini membahas tips-tips keuangan pribadi dan garis besar berbagai instrumen investasi seperti reksadana. Sampai di sini, isi bab ini tidak terlalu berbeda dengan berbagai buku personal finance. Akan tetapi, dalam bab ini juga terdapat satu sub-bab berjudul "Protecting Your Money from the Evil Around You", yang membahas "parasit-parasit finansial" (menggunakan istilah penulis) seperti penipu-penipu online dan real estate scams. Bagian ini juga membahas tips-tips agar tidak terjebak oleh trik-trik para parasit finansial, dan pembahasan singkat mengenai apa yang bisa dilakukan pembaca bila terlanjur menjadi korban.

  • Avoiding Personal Liability. Bab ini membahas topik-topik seperti asuransi, mengurangi risiko dari hal-hal seperti kebakaran maupun kriminalitas, bagaimana bekerja sama dengan pasangan untuk mengimplementasikan crashproofing plan, dan pertimbangan-pertimbangan yang terkait dengan surat wasiat. Selain itu, bab ini juga membahas pertimbangan-pertimbangan finansial yang terkait dengan anak, orang tua, famili dan bahkan tetangga, yang berdasarkan pandangan penulis penting untuk diantisipasi oleh pembaca.

Secara pribadi, saya merasa bahwa isi buku ini cukup informatif, tapi ada kalanya pembahasan dalam buku ini terkesan agak paranoid. Mungkin ini dipengaruhi oleh konteks yang berbeda – buku ini ditulis dengan konteks Amerika Serikat, di mana sepertinya ada cukup banyak orang yang tidak segan mengajukan tuntutan hukum bernilai besar karena perselisihan-perselisihan yang mungkin akan diselesaikan secara kekeluargaan di berbagai negara lain. Di sisi lain, memang tidak tertutup kemungkinan bahwa suatu saat situasi di lingkungan kita akan berubah mendekati situasi yang diantisipasi buku ini. Mengutip bagian pengantar buku ini:

In an era of diminishing privacy and instant communication, and a time when a tabloid mentality is pervading the public consciousness, everything you do wrong is likely to become known by more people more quickly than at any time in the past. Worse still, everything you do right is more susceptible to being distorted and contorted by those who do not have your well-being at heart.

Sudahkah situasi seperti itu muncul di tempat Anda? Bila ya, mungkin ada baiknya Anda melihat-lihat isi buku ini :)

A Life Less Ordinary


Bukan, topik entry ini bukanlah film keluaran 1997 dengan judul sama, tapi sebuah buku yang merupakan kompilasi kisah singkat sejumlah warga Singapura dengan kehidupan yang tidak biasa. Kisah-kisah ini awalnya dimuat secara berseri dalam Sunday Times (edisi hari Minggu dari The Straits Times) mulai tahun 2003, dan dalam buku ini, sang penulis (Wong Kim Hoh) juga menambahkan tulisan singkat yang menceritakan perkembangan dalam hidup tiap subjek sejak tulisan tentang kisah hidup mereka pertama dimuat.

Kisah-kisah dalam buku ini cukup menarik, dan menurut saya ini tidak lepas dari kemampuan Wong Kim Hoh dalam menemukan subjek tulisan yang unik. Dalam buku ini, antara lain terdapat kisah mengenai:

  • Seorang anak berusia 9 tahun dengan dua tumor otak yang juga mempengaruhi syaraf penglihatannya. Alih-alih menyerah pada nasib, si anak berusaha tetap bersikap ceria dan optimis, bahkan setelah mengalami beberapa minor stroke yang terjadi setelah artikel asli tentang kisahnya dimuat di Sunday Times.

  • Seorang clerk yang didiagnosis mengidap Down Syndrome ketika masih kecil, namun tetap bersemangat untuk mengejar prestasi di sekolah bagi pelajar normal, dan bahkan berhasil menulis sebuah buku tentang pengalaman hidupnya.

  • Seorang mahasiswi yang menderita adhesion colic, neurally mediated hypertension, inappropriate sinus tachycardia, dan fibromyalgia, yang mengharuskan dia menelan 20 pil tiap hari untuk menekan rasa sakit yang muncul secara konstan.

  • Seorang mantan pengedar ganja yang kemudian menjadi mahasiswa berprestasi setelah keluar dari penjara.

  • Seseorang yang memiliki kemampuan melihat arwah

  • Seorang wanita karir dengan gelar MBA yang tiba-tiba terkena stroke yang mengakibatkan lumpuh di bagian kanan tubuh dan amnesia selama 3 tahun, sebelum akhirnya ingatannya tiba-tiba pulih.

  • Seorang ilmuwan forensik yang bekerja di Centre of Forensic Science

  • Naval diver wanita pertama di Singapura yang juga memiliki hobi mengikuti berbagai kompetisi endurance dan adventure.

  • Pendiri Singapore Paranormal Investigators, organisasi yang menyelidiki fenomena-fenomena supranatural di Singapura (dan telah menemukan penjelasan non-supranatural di balik sebagian di antaranya)

  • Seorang pesulap profesional

  • Seorang mantan anggota pasukan komando yang kini tinggal sendirian di flatnya

Gaya bahasa buku ini menarik, menyentuh, dan sama sekali tidak membosankan. Saat menceritakan kisah hidup orang-orang yang sedang atau pernah mengalami tragedi dalam hidup mereka, Kim Hoh juga tidak larut dalam nada sentimental. Anyway, menurut saya buku semacam ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi pembacanya. Selain itu, buku ini juga dapat menyadarkan kita akan keberadaan individu-individu dengan situasi kehidupan atau permasalahan yang sangat unik, dan mungkin menggugah kita untuk meniru semangat mereka dalam menghadapi tantangan, atau bahkan memberikan dukungan kepada mereka.

18 May 2008

Movies (and More Movies?)

Recently I've been going to the cinemas more often. I usually prefer to rent DVDs or VCDs, but I think movies with fancy visual effects or scenes involving vast locations/large numbers of people (like LoTR or Star Wars) are worth watching on big screen. And there's a number of such movies released recently, with more coming up :D

Let's see.. what movies have I watched in the past few weeks?

  1. Three Kingdoms: Resurrection of the Dragon. I think the acting (especially Andy Lau's) and battle scenes are pretty good, but I believe it would've been better if it had followed sequences of events in the novel more closely, and limit the scope such that it covers shorter time span in more detail.

  2. The Forbidden Kingdom. Quite entertaining, nice fight scenes. I like Jackie Chan's acting, as well as Jet Li's acting as the stern and serious monk. However, it seems to me that Jet Li (whom in my impression is best when playing roles of serious, quiet characters) had some difficulty playing the mischievous Sun Wukong.

  3. Iron Man. Excellent casting and CGI. The plot could've been improved though. IMHO the main antagonists (the leader of the militant group as well as Obadiah Stane / Iron Monger) didn't seem significant enough. Perhaps the script should've included only one villain and give him more screen time, like in Spider-Man and Batman Begins movies.

  4. Speed Racer. This is my favorite among the four. I particularly like the way it incorporates cutscenes in the background to fill in details of the characters' back stories (I find it effective and it doesn't take much time). I also feel that the overall style will evoke "love it/hate it" feeling though, but it's likely meant as a homage to the style of the original anime. I myself find the style very suitable for the movie.

As you can see from the linked reviews, my opinion and that of movie reviewers' can differ quite substantially, haha. Anyway, next on the list: The Chronicles of Narnia: Prince Caspian, Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull, Batman: The Dark Knight, and The Incredible Hulk :D

17 May 2008

Crime Prevention Section in Hardware Zone

I recently noticed that Hardware Zone Forums now has a section titled "SPF Crime Prevention Forum", created in cooperation with Singapore Police Force.



The description of the forum is as follows:


Brought to you by the Singapore Police Force and Hardware Zone, posts on this forum would inform you on the latest crime trends and the measures you and your families and friends can take to prevent falling victim.

Currently there's only one post there, but I think the idea is pretty neat. Considering HWZ Forums' popularity, it's a very effective way of alerting the (relatively tech-savvy) Singapore population of recent crime trends. Adding a forum and posting new information does not require a lot of money and time (compared to distributing / pasting notices), and this can also give some extra traffic to Hardware Zone as people who formerly have little reason to browse the site start to access it if only to check that forum. Granted, even in Singapore not everyone has Internet connection (and not everyone surf HWZ Forums!), so more conventional means of informing the population of new crime trends will still be needed, but if this idea takes off, it could really help crime prevention efforts.

13 May 2008

NSA Versus US Military Academies

Baru-baru ini, Wired memberitakan cyberwar game antara NSA dan berbagai akademi kemiliteran Amerika Serikat. Kegiatan ini adalah bagian dari Cyber Defense Exercise, sebuah kegiatan tahunan yang merupakan bagian dari pelatihan spesialis-spesialis IT di angkatan bersenjata Amerika Serikat. Berdasarkan isi thread Slashdot yang membahas event ini, nampaknya fokus dari kegiatan ini adalah melatih para kadet untuk mengamankan sebuah untrusted network dari serangan pihak luar (yang diperankan oleh staf NSA).


Menurut saya pola pelatihan ini sangat menarik. Pertama-tama, peran sistem informasi yang aman dan reliable dalam kemiliteran modern memang sangat penting, sehingga penting bagi suatu angkatan bersenjata untuk setidaknya memiliki kompetensi dalam mengamankan sistem informasi mereka sendiri. Kemudian, dalam pelatihan apapun, kesempatan untuk "praktek langsung" sangat efektif sebagai pelengkap pelajaran di ruang kelas. Apalagi "lawan" nya adalah organisasi seperti NSA yang punya kompetensi tinggi di bidang keamanan komputer.


Bagaimana dengan Indonesia? Secara jujur, saya kurang tahu apakah kita sudah memiliki program serupa. Bila belum, mungkin pemerintah perlu mempertimbangkan penyelenggaraan latihan semacam ini secara rutin antara akademi-akademi kemiliteran dan kepolisian dan Lembaga Sandi Negara.