
Business at The Speed of Thought: Succeeding in the Digital Economy bukanlah buku baru -- hampir 10 tahun sudah berlalu sejak buku ini diterbitkan. Mengapa buku ini saya bahas di sini? Alasannya adalah karena menurut saya buku ini cukup menarik untuk disimak.
Berangkat dari pengamatan bahwa laju perubahan di dunia bisnis berkembang makin cepat sejalan dengan perkembangan teknologi, Bill Gates mengajukan argumen bahwa perusahaan-perusahaan yang ingin tetap kompetitif perlu menggunakan teknologi informasi untuk membangun "sistem syaraf digital" (digital nervous system) yang memungkinkan informasi mengalir secara bebas dan pada gilirannya membuat perusahaan semakin responsif. Buku ini kemudian membahas 12 langkah yang dianggap penting untuk mewujudkan ide tersebut, yang dikelompokkan ke dalam tiga kategori: manajemen pengetahuan (knowledge management), operasi bisnis, dan perdagangan (commerce).
Sesuai sasaran pembacanya, buku ini tidak berisi banyak informasi teknis. Di bagian awal buku ini Bill Gates bahkan terkesan lebih menekankan aspek "informasi" daripada aspek "teknologi". Ia antara lain sempat menyinggung buku My Years with General Motors karya Alfred P. Sloan Jr. (pemimpin GM di awal abad 20) dan secara sangat singkat menceritakan beberapa teknik Sloan dalam mengumpulkan dan memanfaatkan informasi – usaha yang pada dasarnya serupa dengan membentuk semacam "extranet" manual antara GM, para pemasok GM, dan para dealer GM. Ini kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai sistem yang digunakan GM saat Business at The Speed of Thought diterbitkan.
Sepanjang buku ini, terdapat cukup banyak contoh kasus penggunaan teknologi informasi dari berbagai organisasi di bermacam-macam industri, mulai dari Merrill Lynch, Dell, Marriott, Marks & Spencer, Boeing, hingga angkatan udara Amerika Serikat. Juga dibahas bagaimana Microsoft sendiri memanfaatkan teknologi informasi untuk berbagai keperluan internal. Secara pribadi, mengingat situasi tahun 1990an, saya berpendapat bahwa ketersediaan contoh-contoh kongkrit ini adalah salah satu aspek yang paling penting dari buku ini. Dengan membaca contoh-contoh yang diberikan, saya rasa seorang pemimpin bisnis tahun 90-an yang sebelumnya mungkin masih gagap teknologi akan mendapat sedikit inspirasi tentang bagaimana teknologi informasi dapat membantu berbagai proses di perusahaannya.
Akhir kata, pemikiran-pemikiran yang termuat dalam buku ini sebenarnya tidaklah baru bahkan untuk ukuran akhir 1990an. Cabang ilmu manajemen pengetahuan, misalnya, telah diakui sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri sejak 1995, dan beberapa aplikasi yang disinggung dalam contoh-contoh di buku ini telah digunakan oleh perusahaan-perusahaan pemiliknya lama sebelum buku ini terbit. Berbagai teknologi yang "dipromosikan" buku ini, seperti e-mail, juga saat itu pun sudah bukan barang baru lagi. Dalam pandangan saya, nilai buku ini lebih kepada perannya (yang didukung oleh ketenaran Bill Gatessebagai pengusaha) dalam memberitahu masyarakat awam, khususnya kalangan pengusaha, tentang pemikiran-pemikiran dan teknologi-teknologi tersebut serta manfaat potensial mereka.